Galeri

Masihkah Kamu Sombong Setelah Melihat Gambar ini?

This gallery contains 5 photos.

Sungguh Maha Besar, Melihat Ciptaan-Nya saja Kita tidak mampu apalagi Melihat Allah SWT, Renungkanlah bahan bacaan di bawah ini semoga kita terhindar dari Perbuatan Sombong. Sesungguhnya kita Sangat Kecil di Mata ALLAH SWT. Tim kami mendapatkan beberapa gambar mengenai perbandingan … Baca lebih lanjut

Renungan Pagi (Orang Kanan Menguasai Masa Depan)

Orang Kanan Menguasai Masa Depan

Tahukah Anda orang yang menggunakan otak kanan lebih banyak menguasai masa depan?

Masing-masing otak memang diketahui memiliki karakter dan fungsi yang berbeda. Kali ini saya tidak membedakan dari sisi fungsi (seperti otak kiri: sistematis, angka, matematis, terstruktur, dst / otak kanan: imajinasi, musik, kreativitas, dan seterusnya).

Saya akan memberikan gambaran efek dari penggunaan otak kiri dan kanan. Mari kita bedakan antara orang yang didominasi otak kiri dan kanan.

Orang Kiri
– Mengendalikan tubuh kanan
– Berpikir secara urutan
– Spesialis di text
– Menganalisa detail
– Termotivasi oleh rasa takut
– Mengambil keputusan lambat
– Ada menjadi tidak ada
– Ingin rumah “atau” mobil
– Sangat canggih melihat masalah
– Efektif mencari alasan
– 1+1=2
– Fokus pada teknis
– Jarak pandang terbatas
– Mengontrol
– Bukan salah saya
– Serius
– Menghindari risiko.

Orang Kanan
– Mengendalikan tubuh kiri
– Berpikir secara simultan
– Spesialisasi di context
– Berpikir besar
– Termotivasi oleh rasa ingin tahu
– Mengambil keputusan cepat
– Tidak ada menjadi ada
– Ingin rumah “dan” mobil
– Canggih melihat solusi
– Efektif melihat kesempatan
– 1+1= terserah saya
– Fokus pada blue print
– Jarak pandang tak terbatas
– Menginspirasi
– Mari kita selesaikan bersama
– Fun
– Mengambil risiko.

Nah, kira-kira ini sebagian kecil perbedaan yang bisa Anda lihat, rasakan dan tanyakan kepada diri Anda tentang efek sifat otak kiri dan kanan terhadap bisnis Anda.

Jika Anda bertanya, mengapa saya tidak bisa berpikir besar? Kemungkinan besar karena otak kiri Anda terlalu terlatih. Dan apa yang terjadi jika ada orang yang sulit menganalisa detail? Karena terutama otak kanan mereka terlalu aktif!

Sumber http://www.facebook.com

Renungan Malam

Seorang tukang kebun mencoba mengadakan penelitian sederhana.

Ia menanam 2 tanaman yg sama pada lahan yg sama.
Yg membedakan hanya bagaimana cara dia merawat tanaman tsb.

Tanaman yg pertama disirami secara rutin tiap pagi sore,
sedangkan tanaman yg kedua disirami 2 hari sekali.

Ketika tanaman itu bertumbuh cukup besar,
tiba waktunya untuk menguji kekuatan akar tsb.

Perbedaannya cukup mencolok;
Dibutuhkan waktu kurang dari 2 menit untuk mencabut akar dari tanaman yg pertama.

Untuk tanaman yg kedua,
Dibutuhkan waktu lebih lama yaitu empat menit untuk bisa mencabutnya!

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Tanaman yg pertama cukup dimanjakan dgn air yg ia dapat dgn mudah,
sehingga akarnya tidak berusaha mencari ke tanah yg lebih dalam.

Sedang tanaman yg kedua karena mendapat suplai air yg lebih sedikit,
maka mau tidak mau akarnya mencari ke sumber air,
sehingga di dapatinya akarnya jauh lebih kuat karena masuk lebih dalam ke tanah.

Pesan Moral,
Cara TUHAN mendidik kita tak jauh beda dgn ilustrasi tsb.

Bayangkan saja jika TUHAN memanjakan kita dgn mengabulkan smua doa yg kita minta atau tidak pernah mengijinkan penderitaan & masalah hidup.

Tentu ini akan membuat kita jadi orang yg manja.
Tak hanya itu, kita akan menjadi orang yg cengeng.

Akibatnya akar iman kita tidak kuat & ketika permasalahan terjadi,
dgn mudahnya kehidupan kita tumbang!

TUHAN sangat mengasihi kita,
itu sebabnya DIA slalu mendewasakan & melatih akar iman kita.

Mengijinkan penderitaan, masalah, tekanan hidup ato keadaan yg tidak menyenangkan,
dgn harapan bahwa akar iman kita terus mencari “Sumber” yg sejati.

Bagaimana dengan Anda?

Apakah Anda memilih untuk menjadi orang yg manja dgn akar yg rapuh?

ato menjadi orang yg didewasakan oleh TUHAN?

“TANPA MASALAH, KITA HANYA AKAN MENJADI ORANG YG MANJA & MEMILIKI AKAR IMAN YG RAPUH!!”

Renungan Malam (Hari Baru Dan Ulang Hari)

Hari Baru Dan Ulang Hari

Banyak waktu di hidup kita yang kita lewati dimana saat tersebut kita anggap menjadi momentum untuk mengawali semuanya dengan baik, memperbaiki segala kesalahan yang pernah terjadi, memberi motivasi baru dalam pencapaian tujuan yang belum sempat tercapai. Ya, membuat resolusi dan restorasi kehidupan di saat momen-momen tertentu yang kita anggap baik. Momen-momen tersebut antara lain seperti tahun baru dan saat kita berulang tahun.

Saat tahun baru akan datang, harapan untuk memperoleh hidup yang lebih baik muncul, timbul semangat luar biasa untuk mencapai tujuan-tujuan baru, maupun tujuan yang belum sempat dicapai di tahun sebelumnya, berbagai resolusi pun dibuat untuk mencapai hal-hal tersebut. Saat berulang tahun, hal-hal yang sifatnya lebih personal muncul, menjadi pribadi yang lebih baik, lebih berprestasi, lebih semangat dalam hidupnya, lebih perhatian terhadap orang-orang di sekitarnya, dan masih banyak lagi. Saya yakin hal ini terjadi pada kita semua. Ada yang hanya menjadikanya sebagai tekad terhadap diri sendiri, sampai mempublikasikan resolusi kehidupannya dengan memasangnya menjadi status di social network.

Namun bukankah sangat disayangkan jika kita hanya mempergunakan momen-momen yang sangat jarang tersebut untuk melakukan hal-hal baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain? Pernahkah kita terpikir apa bedanya hari-hari tersebut dengan hari-hari biasa lainya? Terkadang kita terlalu terpaku pada hal-hal besar, sampai melupakan bahwa hal tersebut dicapai dengan hal-hal kecil yang membangunya. Kita terlalu mensugestikan diri kita untuk melakukan hal-hal baik di hari-hari tertentu yang kita anggap baik, padahal bukankah semua hari itu pada dasarnya baik?

Ketika kita mengenal “Tahun Baru” sebagai saat untuk memperbaiki segala sesuatunya menjadi baik dan berguna bagi orang-orang sekitar kita, sebagai saat memperoleh motivasi baru, dan sebagai saat membuat resolusi hidup, mengapa kita tidak mencoba mengenal “Hari Baru” sebagai waktu untuk melakukan hal yang sama?

Ketika kita mengenal “Ulang Tahun” sebagai saat untuk mensyukuri betapa berharganya diri kita, sebagai saat kita memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik, sebagai saat dimana kita berusaha membahagiakan orang-orang sekitar kita, mengapa kita tidak mencoba mengenal “Ulang Hari” sebagai saat dimana kita melakukan hal yang sama?

sumber

Renungan Malam (Harga Sebuah Kesuksesan)

Dalam sebuah seminar, seorang motivator terkenal memulainya dengan mengeluarkan sehelai uang Rp.100.000,-. Ia mengangkat uang tersebut tinggi-tinggi, sambil mengajukan sebuah pertanyaan kepada lebih dari 2.000 peserta seminar. “Siapa yang menginginkan uang ini?”

Tak ayal sebagian besar peserta mengacungkan tangan.

Motivator tersebut melanjutkan kalimatnya, “Baik! Saya akan memberikan uang ini kepada salah satu diantara Anda. Tetapi sebelum itu saya akan melakukan sesuatu.”

Motivator tersebut menggulung uang kertas itu. Sekali lagi ia bertanya kepada hadirin, “Siapa yang masih menginginkan uang ini?” Tak berbeda dengan sebelumnya, hampir semua peserta seminar tersebut mengacungkan tangan, pertanda mereka masih menginginkan uang itu.

Melihat respon peserta yang tidak berubah, motivator tersebut kemudian menginjak-injak uang tersebut dengan kaki kanan lalu dengan kaki kiri. Setelah uang itu menjadi kotor dan lecek, ia kembali bertanya, “Apakah masih ada yang mengingkan uang ini?”

Masih sama dengan sebelumnya, hampir semua peserta mengacungkan tangan. Kemudian dia berkata, “Saudaraku sekalian, dari peragaan tadi saya hanya ingin menunjukkan bahwa siapun ingin memiliki uang itu. Bagaimanapun kondisi uang tersebut tidak akan menurunkan nilainya dari Rp. 100.000,-”

Pesan:

Kisah tersebut menerangkan sebuah kebenaran bahwa kehidupan ini memang sulit. Setiap hari kita menghadapi tantangan kecil, sedang, berat, hingga sangat berat. Tetapi pada dasarnya tantangan kehidupan tidak mengurangi nilai kita sebagai manusia. Sebaliknya tantangan kehidupan sangat diperlukan untuk meningkatkan nilai diri kita.

“The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort and convenience, but where he stands at times of challenge and controversy. – Nilai seorang manusia tidak dapat diukur disaat ia berada di zona nyaman, melainkan bagaimana ia menghadapi tantangan dan kontrovesi,” kata Martin Luther King Jr.

Tetapi sangat banyak diantara kita yang hanya mengeluhkan kehidupan yang penuh dengan tantangan. Mereka lupa harus belajar sesuatu dari tantangan, rasa sakit dan perjuangan hidup. Karena jika segalanya di dunia ini sempurna, maka kita tidak akan dapat belajar hal baru atau mendapatkan semangat lebih besar untuk berbuat lebih baik dan meningkatkan nilai diri kita sebagai manusia.

http://www.facebook.com