Renungan Pagi (Kau adalah Hidupku)

“Sering kali kita meremehkan dan mengabaikan kekuatan sentuhan, senyuman, ucapan indah, kemauan untuk mendengarkan, kata pujian yang tulus, atau aksi sekecil apa pun yang menunjukkan kepedulian. Semuanya itu justru berpotensi besar untuk mengubah suatu kehidupan.”
-Leo Buscaglia (penulis dan pembicara motivasi)

Kutipan Buscaglia di atas mencoba menyimpulkan kisah menarik dan menyentuh berikut ini. Mungkin kisah ini juga bisa menjadi bahan perenungan kita semua agar lebih menunjukkan sikap kepedulian sekecil apa pun itu terhadap sesama, terutama keluarga.

Ada seorang bocah laki-laki yang dikirim orangtuanya ke sebuah sekolah asrama. Sebelum dikirim ke sekolah baru itu, bocah tersebut adalah murid paling cerdas di kelasnya. Ia masuk peringkat teratas di setiap kompetisi. Ia sang juara.

Tapi, semuanya itu berubah setelah bocah ini meninggalkan rumah dan memasuki sekolah asramanya. Nilai-nilainya mulai menurun. Ia benci harus menjadi bagian dari sebuah kelompok. Ia merasa sendirian sepanjang waktu. Ada kalanya ia mengalami masa-masa gelap hingga ia merasa ingin bunuh diri. Semuanya itu karena ia merasa tidak berguna dan tidak ada yang mencintainya lagi.

Orangtuanya mulai mengkhawatirkan anak kesayangannya itu. Tapi bahkan, mereka pun tidak tahu apa yang salah dengan anaknya itu. Akhirnya, sang ayah memutuskan untuk mengunjungi anaknya itu di sekolahnya dan mengajaknya mengobrol.

Sang ayah dan anaknya pun duduk di tepi danau dekat sekolahan. Sang ayah mulai menanyakan pertanyaan-pertanyaan biasa soal kelas yang diambil anaknya, guru-gurunya, dan jenis olahraga yang dimainkan di sekolah asrama itu. Setelah mengobrol cukup lama, sang ayah berkata, “Kau tahu, Nak, alasan Ayah ada di sini sekarang?”

Bocah laki-laki itu menjawab, “Mengecek nilai sekolahku?”

“Bukan, bukan itu,” balas sang ayah terburu-buru. “Ayah di sini untuk memberi tahumu bahwa kau adalah orang terpenting bagiku. Ayah ingin melihatmu bahagia. Ayah tak peduli dengan nilai-nilai sekolahmu. Yang Ayah pedulikan hanyalah kebahagiaanmu. KAULAH HIDUPKU.”

Kata-kata ayahnya ini membuat bocah itu menangis. Ia langsung memeluk ayahnya. Mereka tidak mengatakan apa pun selama beberapa lama.

Sekarang, bocah laki-laki itu memiliki segalanya. Ia tahu sekarang bahwa ada seseorang di dunia ini yang sangat menyayanginya. Ia sangat berarti bagi seseorang. Dan bertahun-tahun setelah itu, bocah ini sudah menjadi mahasiswa paling cerdas di kelasnya dan ia tak pernah terlihat sedih lagi.

Sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s