Oezil di Madrid, Messi di Barca

Rossi Finza Noor – detiksport


Reuters
Madrid – Mesut Oezil akhirnya jadi juga berbaju Real Madrid. Bersamaan dengan kedatangannya ke Liga Spanyol, muncul pula suara yang membanding-bandingkannya dengan Lionel Messi.

Apa yang membuat Madrid, dan beberapa klub besar Eropa lainnya, kesengsem terhadap Oezil terlihat pada Piala Dunia 2010 lalu. Tanpa adanya Michael Ballack, plus dengan skuad yang diisi mayoritas pemain muda, Jerman tampil impresif. Oezil adalah salah satu katalisatornya.

Dengan postur tubuh yang relatif mungil untuk ukuran Eropa–tinggi 182 cm dan berat 70 kg, Oezil punya kelincahan dan kecepatan yang bagus. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu senjatanya, selain juga visi permainan dan operan yang mumpuni.

Ia menyumbang satu gol dan tiga assist untuk Jerman pada Piala Dunia pertamanya itu. Cukup untuk menunjukkan bahwa pemain berusia 21 tahun ini menjanjikan.

Namun, Piala Dunia hanyalah ajang untuk membuat namanya mendunia. Di Bundesliga ia sudah mendapatkan pengakuan sebagai salah satu gelandang jempolan sejak 2008 silam, di mana ia mulai sering dimainkan oleh Werder Bremen.

Selama membela Bremen, pemain berdarah Turki ini bermain sebanyak 107 kali dan menyumbang 17 gol. Seperti dilansir Opta, musim lalu ia adalah pemberi assist terbanyak di Bundesliga (13), sama dengan Zvjezdan Misimovic.

Muda, cepat, punya visi bagus dan berbahaya di pertahanan lawan. Wajar kalau ia kemudian dibandingkan dengan pemain yang punya model mirip-mirip di kubu seberang, Lionel Messi dari Barcelona.

Secara permainan Oezil dan Messi memang tak sama persis. Meski sama-sama lincah, Messi lebih sering mengeluarkan gocekan nan ajaib di pertahanan lawan. Sementara permainan Oezil masih dibumbui permainan rapi dan staying power khas Jerman–yang mana cocok dengan skema bikinan Jose Mourinho.

Yang jelas, dengan perbandingan tersebut berarti sudah ada ekspektasi di pudak Oezil. Ekspektasi untuk membuat Madrid melangkahi Barca yang dalam dua musim terakhir berjaya di La Liga bersama Messi-nya.

“Di Jerman, kami cenderung berkomentar tinggi soal pemain asing. Kami memuji Wayne Rooney seperti halnya Cristiano Ronaldo atau Messi. Tapi, kami punya Messi versi sendiri. Messi kami adalah Oezil,” cetus Horst Hrubesch–salah satu punggawa Jerman di Piala Eropa 1980–di ESPN Star.

Apa pun itu, Messi adalah Messi dan Oezil adalah Oezil. Sesering  apa pun perbandingan itu muncul, biarkan keduanya mengeluarkan kemampuan masing-masing. Kita? Duduk dan nantikan saja duel keduanya di La Liga dan El Clasico musim ini.